Ini bukan cerita tentang peperangan, baik perang kemerdekaan ataupun perang dunia dahulu..
Ini hanya cerita tentang refleksi diri, dimana kita merasakan keinginan untuk selalu berubah dan terus berjuang untuk berubah.
Beberapa waktu lalu di saat ramadhan, selama sebulan penuh kita dilatih dan ditempa untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, serta mengendalikan diri dan hawa nafsu, sehingga beberapa tabiat utama seperti sabar, jujur, ikhlas dan kepedulian sosial melekat dalam diri kita.
Selama itu pula kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah meningkat tajam. Meski dengan fisik yang lelah karena berpuasa, namun kita masih mampu untuk melaksanakan Qiyamul lail, seperti shalat Tarawih berjamaah di masjid, mushalla dan tempat lainnya. Bahkan disambung lagi dengan “Tadarus” al quran, serta menghidupkan berbagai bentuk majelis taklim, dan ceramah-ceramah agama.
Kini ramadhan pun telah pergi, apa yang akan kita lakukan pasca Ramadhan ini? Akankah semangat Ramadhan tetap dipertahankan? Jika selama Ramadhan kita taat menjalankan ibadah kepada Allah (taqarrub Ilallah), maka seusai Ramadhan pun kita harus tetap taat dan terus berjuang untuk perubahan dalam kebaikan .
Jangan sampai kita kena imbas fenomena melemahnya kembali keimanan, ketaatan dalam beribadah dan ketaqwaan kita pasca lebaran. Jangan sampai kita termasuk orang yang asing kembali masuk ke masjid&mushola, yang selama sebulan penuh (saat ramadhan) ramai oleh jamaah.
Ayo kita berjuang terus, berjuang untuk menegakan kebenaran, ketaatan, keimanan dan ketaqwaan…
DIarsipkan di bawah: Warta Umum
