//
you're reading...
Manhaj

Pengenalan Atas Dakwah Salafiyah

Dakwah Salafy (dakwah secara harfiah berarti ” panggilan”, dan dalam hal ini mengacu pada dakwah atas kebenaran, pengajaran dan penyebaran) adalah (Dakwah yang mengacu) atas Al Quran dan Sunnah (yaitu. asas agama Islam – yang murni dan bebas dari segala infiltrasi berupa penambahan, penghapusan dan perubahan).

Hal ini berarti loyalitas di atas jalannya Nabi (Muhammad), semoga Allah merahmati atas beliau, dan serta atas orang yang beriman, yakni Salafus Shalih ( yaitu. As-Salaf As-Saalih – Pendahulu dari Shahabat dan pengikutnya yang shalih) dari ummat Islam yang beriman serta mereka semua yang mengikuti jejak langkah mereka di (dalam) keimanan, tindakan dan perbuatan.

Allah telah berfirman : “Dan siapapun bertentangan dengan (serta) membantah Nabi (Muhammad) setelah bimbingan telah yang jelas disampaikan kepadanya dan memilih suatu jalan selain dari (jalan) orang yang beriman, Kami akan meninggalkan dia di (dalam) jalan yang ia telah pilih dan menetapkan baginya di (dalam) Neraka, yang merupakan suatu tempat yang buruk! ” [ Surah Al-Nisaa’ 4:115].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam menafsirkan ayat ini : ” Semua yang membantah dan menentang Nabi setelah jelas jalan yang benar nampak atas mereka, (sementara dia) mengikuti selain dari jalan orang yang beriman; dan siapa yang mengikuti jalan selain orang yang beriman, yang (mereka) dibantah dan ditentang Nabi setelah jalan yang benar telah ditunjukkan kepada mereka. Jika seseorang mengira sedang mengikuti jalan orang yang beriman dan (ia) keliru, ia termasuk dalam posisi yang sama sebagai yang mengira ia sedang mengikuti Nabi dan dia salah mengira (salah dalam perkiraannya).”

Siapa Salaf dan siapa Salafy (pengikut Salaf) ?
Para pendahulu yang saleh ( yaitu. As-Salaf As-Saalih) yang mereka adalah ummat Islam yang beriman dari Shahabat Rasulullah, semoga kedamaian diberikan atas mereka -, para pengikut mereka ( Tabi’in dan Taabi’ut Tabi’in (yaitu. tiga yang generasi pertama ummat Islam) dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah setelah mereka, yang mengikuti jalan mereka dalam keimanan dan perbuatan.

Diantara mereka yakni : Imam Abu Hanifah ( 150 H), Al-Auzai ( 157 H), Ats-Tsauri ( 161 H), Al Laits ibn Saad ( 175 H), Imam Malik ( 179 H), Abdullah ibn Al-Mubarak ( 181 H), Sufyan ibn Uyainah ( 198 H), Imam Asy-Syafi’I ( 204 H), s( 238 H), Imam Ahmed Hanbal ( 241 H), Al-Bukhari ( 256 H), Imam Muslim ( 261 H), Abu Dawud ( 275 H) dan yang lainnya.
Ibn Taimiyyah ( 728 H), dan para muridnya: Adz-Dzahabi ( 748 H), Ibn Al-Qayyim ( 751 H), Ibn Katsir ( 774 H) dan yang lainnya.

Imam Muhammed ‘ Abdul Wahhab At Tamimi an Najdi ( 1206 H) dan banyak dari para muridnya.

Dan di (dalam) masa kini : Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz, Syaikh Muhammed Salih Utsaimin, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani.

Pengikut Salaf (Salafy) adalah AhlusSunnah Wal Jamaa’Ah. Mereka adalah Thaifah Al Manshurah (golongan yang dimenangkan, yang dibantu) dan Firqatun-Najiyah (golongan yang diselamatkan) yang telah tersebut dalam statemen Rasulullah berikut – semoga ALLAH memberikan kedamaian atasnya – :
” Selalu ada terus-menerus kelompok yang tunggal dari ummatku yang berada di atas kebenaran (Al Haq), yang dimenangkan; mereka adalah orang yang dilindungi dari orang yang menolaknya dan yang menentangnya. Mereka akan berada di dalam ummatku dan (mereka) dalam keadaan yang sedemikian (istiqomah) sampai mereka bertemu dengan pendusta ( yaitu. Al Masih Dajjal).” [diriwayatkan dalam hadist Sahih Muslim]

” Ingatlah bahwa ummat yang ada sebelum kami dari kalangan Ahli Kitab terpecah menjadi 72 sekte dan juga agama ini..”

dan dalam riwayat lain
“… Ummah ini akan terpecah menjadi 73 sekte: ke 72 (kelompok) akan berada di Neraka dan satu (kelompok) di Jannah (Surga) dan itu (mereka) adalah Jama’ah.” [ diriwayatkan Abu Dawud- Sahih]

” Dan Ummah ini akan terbagi dalam 73 sekte semua dari mereka akan masuk Neraka kecuali satu (kelompok) ( yaitu. kelompok yang diselamatkan) yakni mereka yang berada diatas apa yang aku dan shahabatku diatasnya (yaitu. mereka yang mengikuti jalanku dan jalan dari Shahabatku.)” [ Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi- Hasan]

Kenapa kita sebut diri kita Salafy ?
Nama Salafy mengacu pada siapa yang menisbahkan dirinya atas kelompok ummat yang dikatakan Nabi (Shalallahu ‘alaihi Wasalam) : ” Ummat terbaik adalah generasiku (Shahabat) , kemudian mereka yang mengikuti mereka (Tabi’in – murid Shahabat), kemudian yang mengikuti mereka (Tab’iut Tabi’in – pengikut Tabi’in) ( yakni tiga generasi pertama ummat Islam).” [ Diriwayatkan oleh Bukhari Dan dan Muslim – secara Mutawatir].

Penisbahan ini bukanlah kepada seseorang (seorang Ulama’ saja), dimana seperti kelompok-kelombok/hizbi/sekte yang muncul saat ini. Hal itu bukanlah suatu penisbahan untuk seseorang atau bahkan untuk sepuluh orang, tetapi atas sekelompok yang tidak akan sepakat (untuk) berbuat salah, karena mustahil mereka Salaf (ulama’ dari kalangan Sahabat dan pengikutnya sepakat dalam kesalahan atau petunjuk yang salah.

Maka dalam penisbahan kepada [jalan/cara] Salaf, Salafy telah menisbahkan dirinya agar tidak menyeleweng (dari Islam). (Sebab) Hal ini diambil dari hadits: ” Ummatku tidak akan bersatu diatas kesalahan.” [ Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Hakim- Sahih], dan tidaklah benar bahwa hadits ini mengacu pada ummat pada berbagai zaman belakangan, karena hadits ini diucapkan di masa Nabi, (Shalallahu ‘alaih Wasalam), dan (jelas) Sahabatnya yang ditunjuk sebagai ummah yang bebas dari fitnah yang kini tersebar luas dan banyak penyimpangan (seperti di masa kini).

Kelompok sesatlah yang memisahkan diri mereka dari Jamaa’ah (Shahabat dan Pengikutnya = Ahlusunnah) setelah masa mereka, dan masa berikutnya yang (banyak) terjadi perpecahan.

Hadits yang sebelumnya tentang Taaifah- al-Manshurah ( Kelompok yang ditolong) dan Firqat-Un-Najiyah ( Kelompok yang diselamatkan) menunjukkan siapa yang dimaksud dalam hadits ini, yaitu mereka yang memiliki rujukan dan mengikuti jalan kelompok dipersatukan, yang benar-benar ditunjuki, merekalah tiga yang pertama generasi ummat Islam: As-Salafus Shalih.

Kata “Salafy” adalah singkatan yang memerlukan penjelasan yang panjang. Seseorang yang dinyatakan sebagai Salafy artinya :
Ia (Salafy) bukanlah sekte Khawarij yang memvonis ummat Islam sebagai “orang kafir’ dalam kaitan dengan dosa besar yang mereka lakukan, dan mereka menganggap benar secara hukum untuk merampas darah dan kekayaan mereka (karena dianggap kafir murni).
Ia (Salafy) bukanlah sekte Syiah (Syi’i) yang sangat membenci dan mengutuk Shahabat Nabi (Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasalam) dan meyakini bahwa (Shahabat) telah murtad, mengklaim bahwa Al Quranul Karim telah diubah, menolak Sunnah yang murni dan sangat memuja keluarga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam – semoga ALLAH merahmati keluarga Rasulullah.
Ia (Salafy) bukanlah Qadariyyah yang menyangkal Taqdir/Qadar (Keputusan ALLAH).
Ia (Salafy) bukanlah Murjiah yang mengakui Iman untuk; hanya pada ucapan dan bukan (dalam) perbuatan.
Ia (Salafy) bukanlah Asy’ariyyah yang menyangkal Asma’ dan Sifat-Sifat Allah.
Ia (Salafy) bukanlah Sufi yang memuja kuburan, orang suci dan mengklaim sebagai titisan Rabb.
Ia (Salafy) bukanlah Muqollidun (orang yang suka ikut-ikutan tanpa ilmu) yang mengharuskan agar setiap ummat Islam berpegang pada madzhab-madzhab, pemikiran dari Imam atau Syaikh tertentu, walaupun disaat pendapat madzhab tersebut berbeda dengan ayat yang jelas murni dari Al Quran dan dari hadits Nabi yang Shohih – Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Ia (Salafy) memurnikan Tauhid (Keesaan Allah), mengesakan Allah dalam penyembahan, permohonan, permintaan bantuan, permohonan perlindungan, disaat dikaruniai kesenangan dan penderitaan, pengorbanan, persaksian sumpah, menempatkan keyakinan total kepadaNya dan dalam memutuskan sesuatu sesuai apa yang telah Allah telah tetapkan (dlm Al Quran) dan seluruh bentuk peribadahan. Inilah landasan ia (Salafy) untuk mengembangkan (dakwah) tanpa (mengharuskan) keberadaan pemerintahan Islam yang sesungguhnya.
Ia (Salafy) secara aktif (mendakwahkan) untuk meninggalkan syirik ( penyekutuan sesuatu dengan Allah) yang saat ini tengah melanda di seluruh negeri ummat Islam, dan penyingkiran syirik ini merupakan konsekwensi dari Tauhid. Ia (Salafy) mengetahui kemenangan tidaklah mungkin tanpa adanya Tauhid (Pemurnian penyembahan hanya kepada ALLAH), dan syirik itu tidak dapat diberantas dengan yang semisalnya (model lain dari Syirik). Maka ia (Salafy) mengikuti jalan dari seluruh Nabi yang diutus dan yang diteladankan oleh Nabi kita Muhammad (Shalallahu ‘alaihi wasalam), dan ia (Salafy) menolak berkompromi dengan mereka yang sedang mengaku sebagai reformis dalam agama, tetapi bekerja sama dengan para ahli dakwah yang bergelimang kesyirikan.
Ia (Salafy) penganut setia ajaran dari Nabi (Shalallahu ‘alaihi wasalam), jalan hidup nya dan jalan dari Shahabatnya setelahnya. Nabi (Shalallahu ‘alaihi wasalam), bersabda: “Aku telah meninggalkan kamu dua hal – yang kamu tidak pernah akan tersesat sepanjang kamu berpegang teguh pada keduanya – yakni Kitab Allah dan Sunnah ku.” [ Diriwayatkan oleh Al-Hakim – Sahih].
Ia (Salafy) merujuk pada firman Allah dan sabda Nabi Nya, (Shalallahu ‘alaihi wasalam), disaat terjadi perselisihan faham atau perbedaan pendapat, selalu mengacu pada firman Allah : ” Jika kamu berbeda dalam segala hal diantara diri kalian, kembalilah kepada Allah (Al Quran) dan RasulNya (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir (Kiamat). Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [Surah An-Nisa’ 4:59]

Ia (Salafy) memberi hak yang lebih tinggi terhadap firman Allah dan Nabi Nya, (Shallahu –alaihi wasallam), dibanding perkataan orang lain, sebagaimana Allah berfirman : ” Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului ALLAH dan NabiNya, takutlah kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [ Surah al-Hujurat 49:1].
Ia (Salafy) menghidupkan kembali Sunnah Nabi, (Shallalahu ‘alaihi wassalam), dalam perbuatan dan peribadatannya, sehingga tindakannya dan dalam hidupnya akan menjadi orang asing di antara orang-orang lain, seperti Nabi, (Shallallahu ‘alaihi wassalam), telah menyebutkan sabdanya : ” Islam mulai sebagai orang asing dan akan dikembalikan menjadi seperti orang asing sebagaimana awalnya dulu. Maka berilah kabar gembira pada orang-orang asing.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim – Sahih]. Dan dalam riwayat lain: ” Berilah kabar gembira kepada ummat minoritas (terasing), mereka yang memurnikan, yang memperbaiki apa-apa yang telah dirusak oleh perusak Sunnahku.” [ Al-Silsilah Shaikh Al-Albani- Sahih].
Ia (Salafy) menyerukan kepada kebaikan Tauhid, ketaatan kepada Allah dan menapaki jejak Nabi (Shallallahu ‘alaihi wasalam), dan melarang dari kejelekan (memperingatkan agar hati-hati terhadap kesyirikan, penentangan kepada ALLAH dan menjauhi Rasulullah, Shallallahu ‘alaihi wasalam, serta Sunnah beliau). Dengan begitu ia mengingatkan ummat, agar keluar dari dalam kesesatan, dari bid’ah, jalan yang keliru dan hizbiyyah, kelompok merusak yang hanya menyeru ummat untuk keuntungan duniawi, aturan dan fitnah duniawi, bukan untuk melangsungkan Tauhid atau menjauhi kesyirikan.
Ia (Salafy) bertindak sesuai firman Allah: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan”. [Surah Asy-Syams 91:8], sehingga ia selalu berusaha mencari pengampunan, dengan taubatan nasuha (tobat yang sebenar-benarnya), menuju rahmat Allah yang berlimpah-limpah, dan bersegera melaksanakan amalan yang saleh dalam rangka membersihkan jiwanya.
Ia (Salafy) dalam menyembah ALLAH, tidak lepas dari perpaduan Takut, Penuh Harap dan Cinta kepada ALLAH, sebagaimana firman ALLAH : “Dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” [Surah A’raaf 7:56]. Dan Dia berfirman : ” Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. ” [ Surah as-Sajdah 32:16] dan Ia berfirman : ” Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). ” [ Surah al-Baqarah 2:165].

Kata “Salaf” digunakan untuk menyatakan : ” Siapapun yang menyembah Allah dengan “rasa cinta” saja, maka dia adalah seorang Zindiq (perusak agama, pembuat Bid’ah) dan siapapun yang menyembah ALLAH dengan “penuh harapan” saja, maka dia jelas adalah orang Murji’ ( orang yang meyakini bahwa dosa apapun tidak dapat merusak, selama di dalam hatinya ada iman) dan ia yang memuja Nya dengan “rasa takut” saja, jelaslah dia adalah Haruri ( mereka termasuk orang yang meninggalkan kekhalifahan Ali Radiyallahu ‘anhu, dan mereka menentang beliau). Tetapi ia yang menyembahNya dengan “penuh cinta” , “takut” (akan adzabNya) dan “mengharap” (rahmat dan karuniaNya) maka dialah seorang yang Muwahhid ( yang berpegang teguh pada Tauhid Allah.)”

Kata “Salafy” merupakan ikhtisar yang berkenaan dengan definisi panjang di atas. Bahkan Salafiyyah bukanlah orang yang membebek (mengikuti tanpa dalil/ilmu) kepada Syaikh tertentu atau Imam tertentu. Namun, mereka hanyalah berloyalitas kepada Al Quran dan Sunnah sebagaimana yang difahami oleh Pendahulu yang saleh (yaitu. As-Salaf As-Saalih) dari ummat Islam yang beriman.

Oleh karena itu, dalam pengertian ini, maka seorang Muslim tidak memiliki pilihan selain menjadi seorang Salafy, yang berarti dia menisbahkan (mengacu) dirinya untuk menapaki jejak kelompok yang telah dijamin selamat dari Api Neraka oleh Rasulullah, Shallallahu ‘alaihi wasalam, oleh Hadits yang Shahih, serta mereka memisahkan dirinya dari yang telah menyimpang dan terpisah dari al Firqatun Najiyah (Golongan yang diselamatkan).

Apakah Landasan Pijakan Dakwah Salafy ?
Keyakinan bahwa ALLAH itu ada dan sebagai Pencipta dari seluruh makhluk yang ada, dan seluruh aspek-aspek Tauhid lainnya.

Dan ada landasan utama lainnya yang lebih kompleks, diantaranya :
Keyakinan dalam Asma’ (Nama-Nama) dan Sifat-sifat ALLAH yang disebutkan dalam Al Quran dan Sunnah yang Shahih, dengan menyepakati sesuai arti sebenarnya dalam kaidah harfiah bahasa Arab, diantaranya tanpa melakukan pengingkaran Asma’ dan Sifat ALLAH, tanpa menyamakannya ALLAH dgn sifat ciptaanNya. Prinsip ini dikenal sebagai Tauhid-Ul-Asma’ Was-Sifat (Pentauhidan Nama dan Sifat ALLAH).

Allah berfirman dalam Al Quran: ” Katakan (Wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam): Katakanlah:”Dialah Allah, Yang Maha Esa”. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. ” [ Surah al-Ikhlaas 112]. Dan Allah berfirman : ” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [ Surah Asy-Syuura 42:11]

Mentauhidkan Allah dalam seluruh bentuk peribadatan. Prinsip ini dikenal sebagai Tauhid-Ul-Ibadah (Pentauhidan Peribadatan). Allah berfirman dalam Al Quran : ” Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [ Surah al-Jin 72:18].

Dan ALLAH berfirman: ” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan-nya.” [ Surah al-Kahfi18:110]

Dan pentauhidan ALLAH dalam sifat Rububiyah (Kekuasaan ALLAH). Prinsip ini dikenal sebagai Tauhid-Rububiyyah (Ketauhidan Kekuasaan ALLAH atas segala makhluknya, pemberian rizki, hidup/mati, penciptaan dsb)

Manhaj Salaf ( yaitu. dalam beriman) selalu memegang tiga prinsip yang tersebut diatas dalam Tauhidnya. Ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya sebab mereka adalah tiang dari konsekwensi dari persaksian kita : ” Asyhadu an laa ilaaha Illallaah” (Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah).

Di dalam naungan prinsip inilah, (Tauhid yang murni) telah dijelaskan oleh para Ulama Salaf secara terperinci dalam buku-buku mereka di sepanjang zaman. Adapun Salafy (peniti jejak Salafus Sholih) semestinya secara terus-menerus (istiqomah) mengarahkan perhatiannya untuk belajar dan menerapkan prinsip Tauhid ini sedemikian sehingga ia dapat mewujudkan dan menyempurnakan keimanan di atas Tauhidnya.

Ittiba’ (Mengikuti Nabi)
ALLAH berfirman : Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” [ Surah Ali Imran 3:31]

Setelah Salafy mempelajari Tauhid sesuai prinsip di atas, maka baginya untuk beristiqomah mengikuti (ittiba’) di atas jalan Nabi Muhammad, Shallallahu ‘alaihi wasalam. Ini adalah aktualisasi dari persaksiannya bahwa: ” Wa Asyhadu anna Muhammad Rasulullah”
Saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam adalah Rasul Allah utusan ALLAH. Prinsip ini tidak hanya berarti bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Nabi, juga berarti beliau dipersaksikan sebagai Nabi yang terakhir, tidak sempurna prinsip ini kecuali dengan yang berikut. Keyakinan bahwa Nabi, Shallallahu ‘alaihi wasalam, datang dengan dua hal yang penting yakni : Al Quran dan Sunnah. Nabi, Shallallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda : ” Aku telah membawa AL Quran dan sesuatu yang bersama (semisal) dengannya (Sunnah)” [ Diriwayatkan oleh Abu Dawud Dan Ad-Darimi – Sahih]. Dan beliau , Shallallahu ‘alaihi wasalam, telah bersabda : ” Selama kamu berpegang teguh pada “dua” hal yang telah aku tinggalkan diantara kalian, maka kalian tidak akan pernah tersesat: (yakni) Kitab ALLAH ( yaitu. Al Quran) dan Sunnah (dari) Nabi Nya.” [ diriwayatkan oleh Al-Hakim- Sahih].
Keyakinan bahwa ketaatan (ittiba’) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam adalah kemestian dan bahwasanya kedudukan beliau (dalam posisi ditaati dan diikuti) tidak dapat disamai oleh seseorang selain beliau diantara umat manusia. Oleh karena itu, Nabi, Shallallahu ‘alaihi wasalam, sendirilah yang berhak untuk dipatuhi dan diikuti. Semua keyakinan, statemen, tindakan dan perbuatan yang bertentangan dengan beliau (semestinya) ditolak dan ditinggalkan.
Loyalitas kepada jalannya Nabi Muhammad, Shallallahu ‘alaihi wasalam, tidak akan pernah lengkap dan sempurna kecuali dengan mencintai beliau. Apa yang dapat meningkatkan kecintaan ini, diantaranya dengan loyalitas dan patuh atas perintahnya, berlomba-lomba dalam beramal sesuai teladannya, mengedepankan statemen beliau di atas orang lain, mempelajari sirah ( cara hidup dan tindak-tanduk beliau) dan bimbingannya serta mengimplementasikan dalam praktik sehari-hari dari di atas Sunnahnya. Nabi, Shallallahu ‘alaihi wasalam, bersabda : “Tidak satupun diantara kalian disebut beriman sampai aku (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam) menjadi yang lebih dicintai dibanding kepada bapaknya, anak dan semua umat manusia.” [ Diriwayatkan oleh Imam Muslim- Sahih].

Itulah yang dinamakan loyalitas, ketaatan yang sebenar-benarnya kepada Jalan Nabi, Shallallahu ‘alaihi wasalam, yang kini telah ditinggalkan ummat dan rasa cinta yang sebenarnya bahkan telah nyaris menghilang. Hal ini berkaitan dengan terjadi diantara banyak manusia masa kini dikarenakan :
 Penolakan terhadap Sunnah Nabi kita, Shallallahu ‘alaihi wasalam, meninggalkan dari rutinitas keseharian kita, meremehkannya dan adanya sikap kesombongan dan rendah diri untuk melaksanakannya.
Telah tersebar secara meluas hadits-hadits yang tidak shahih, belum dibuktikan kebenarannya diantara ummat, sehingga menjadikan sumber perbedaan dan perpecahan diantara ummat.
Telah tersebar praktek baru / bid’ah yang didakwahkan diantara ummat.
Telah adanya keharusan dari ummat Islam untuk membabi-buta berlandaskan pada madzhab tertentu ( yaitu. taqlid: secara harfiah ” mengikuti secara membabi-buta”).
Memutuskan dan melaksanakan amalan tanpa ilmu dan dalil dari AL Quran dan Sunnah.
Terjadinya pemandulan implementasi syariah (Hukum Islam) yang merata di seluruh negeri Islam dan diganti oleh hukum hukum Kufar (non Islam).

PENGENALAN ATAS DAKWAH SALAFIYYAH
Penulis: Abu ‘Iyad as-Salafi (www.salafipublications.com ID SLF020001)
Tazkiyah (Pembersihan Dien)

” Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [ Surah Ali Imraan 3:164]
-Al Quran dan Sunnah adalah satu-satunya sumber untuk tujuan tazkiyah ( yaitu. pemurnian, integritas, pelurusan, kebaikan, keadilan, dll.).
-Nabi Muhammad, Shallallahu ‘alaihi wasalam, sosok umat manusia yang dalam jiwa nya paling bersih, dan sehingga akhlaqnya merupakan pengejawantahan Al Quran. Tidak ada diantara manusia yang setara dengan beliau dalam karakternya (sesuai dgn Al Quran). Maka beliaulah sosok yang paling tepat sebagai tauladan untuk Tazkiyah. Allah berfirman dalam AL Quran : ” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. ” [ Surah al-Ahzaab 33:21].
-Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam serta penghujung generasi Salaf – secara keseluruhan – merupakan sosok tauladan yang tepat untuk memurnikan agama.
-Tidak ada jalan yang lebih nyata untuk semakin dekat kepada Allah kecuali dengan menetapi apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, Shallallahu ‘alaihi wasalam. Nabi, Shallallahu ‘alaihi wasalam, telah bersabda : “Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami yang hal tersebut bukan dari agama ini maka perkara itu ditolak ” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari). Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda :”Barangsiapa yang beramal satu amalan (dari Dienul Islam) yang tidak ada perintahku padanya, maka dia tertolak.”[Diriwayatkan oleh Muslim].
-Tidak ada suatu tindakan yang spesifik dalam rangka menuju pembersihan jiwa, kecuali dengan menuju Islam secara menyeluruh. Allah berfirman : ” Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan ( yaitu. mematuhi semua peraturan Allah dan Nabi Nya), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” [ Surah al-Baqarah 2:208].
-Perbuatan sia-sia yang dikenal sebagai pemahaman Sufi telah merusak keyakinan, amalan dan akhlak seorang muslim.
-Manhaj (jalan yang ditempuh) Salaf berdiri antara kedua kubu ekstrim diantara aliran kebatinan (yaitu pemikiran Sufi) dan teologi rasionalisme ( yaitu. penggunaan logika sebagai dasar pemikiran dan pembuktian untuk mengajarkan/memahami Islam– seperti aliran sesat Mu’tazilah).
– Manhaj Salaf menyajikan tauladan pemahaman yang benar. Kebenaran dalam Iman dan bukan Nifaq ( Kemunafikan), Bersih (Murni) dan bukan kekotoran.

PENGENALAN ATAS DAKWAH SALAFIYYAH
Penulis: Abu ‘Iyad as-Salafi (www.salafipublications.com ID SLF020001)

Tujuan Dakwah Salafy
Dakwah Salafy bukan diarahkan untuk suatu keyakinan khusus maupun tindakan tertentu. Demikian juga dakwah Salafy bukan pergerakan reformasi sosial ataupun suatu partai politik semata.

Akan tetapi, dakwah Salafy mengacu pada Islam dalam pengertian yang menyeluruh (kaffah). Sebab Islam adalah agama (yang diridloi) Allah, bukanlah suatu agama yang merupakan milik bangsa tertentu, maupun kelompok orang tertentu. Islam adalah agama yang diperuntukkan untuk seluruh ummat manusia yang ada di permukaan bumi.

Dengan alasan inilah menunjukkan dakwah Salafy juga bukan dakwah untuk suatu bangsa tertentu, maupun kelompok orang tertentu, tetapi merupakan Manhaj yang mencakup dalam memahami Islam secara benar, beramal serta berdakwah dengannya. Maka dibangun di atas keyakinan inilah maka perwujudan dari tujuan dakwah Salafy identik dengan dakwah (panggilan) tentang Islam dan mereka (Salafy) bukanlah sekte religius atau kelompok tertentu.

Oleh karena itu Salafy sangat berbeda dibanding berbagai sekte dan golongan dalam hal cara dan metodologi dakwah ( yaitu. pemanggilan, menyebarkan, berkotbah). Mereka (Salafy) berdakwah menuju Islam secara keseluruhan (kaffah), yang menunjukkan implementasi dan pemahamannya yang benar.

Mereka (Salafy) tidak berdakwah kepada aspek Islam tertentu (parsial), lain dibandingkan kebanyakan kelompok yang tersesat, yang lebih menekankan dan berdakwah pada aspek tertentu, sehingga mereka bertindak semaunya sendiri dan menyesuaikan dengan kebutuhan hawa nafsunya sendiri.

Inilah dakwah yang benar ini, merupakan inti dari dakwah dari semua Nabi yang diutus ALLAH; yakni bermuara menuju ketauhidan Allah, pembasmian kesyirikan, pemurnian dalam persembahan kepadaNya, ketaatan kepada para Nabinya dan yang berikut untuk menetapi jalan mereka serta pengikutnya yang sholih. Inilah intisari Dakwah Salafy.

Maka tujuan Dakwah Salaf tercakup didalamnya dan pada diri-diri mereka (Salafy) dan itulah tujuan Dakwah Islam, untuk menghasilkan muslim yang “hakiki”.
-Membawa ummat menuju eksistensi masyarakat Islam yang hakiki. Allah berfirman : ” Mereka (yaitu) orang-orang (yang beriman) yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” [ Surah al-Hajj 22:41].
-Untuk menetapkan bukti-bukti bahwa Allah menentang kekafiran, kejelekan bid’ah dan kelompok-kelompok di dalam ummat Islam. Allah berfirman dalam Al Quran : “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [ Surat Ali Imran 3:164].
-Untuk menyelamatkan diri kita dari (siksa) Allah dengan melaksanakan dakwah yang terpercaya yang telah diwajibkan kepada kita. Allah berfirman ” Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa” [Surat Al A’raf 7:164].

Karakteristik Khusus Dakwah Salaf
Di antara karakteristik yang membedakan Dakwah Salaf (dgn lainnya) sbb :
-Aktualisasi dalam hal keyakinan atas Tauhid ALLAH, serta ucapan dan amalan dari muslim. Allah berfirman : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” [ Surah Al-Nisa’ 4:36].

-Aktualisasi kesatuan dan persatuan ummat Islam di atas Tauhid dan Ittiba’ sehingga kokoh loyalitas dan pembelaan mereka kepada Sunnah (Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasalam). Allah berfirman : ” Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (Agama) Allah (Al Quran), dan janganlah kamu bercerai berai” [ Surah Aali Imraan 3:103]. (Wallahu a’lam. Selesai).

Penulis: Abu ‘Iyad as-Salafi (www.salafipublications.com ID SLF020001 [2549])

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: